Satu persepsi yang ternyata -lagi-lagi- merupakan kesalahan besar dalam hidup saya adalah “pekerjaan”. Dulu, masa-masa kuliah selalu dipenuhi oleh hayalan bahwa dunia pekerjaan akan jauh lebih menyenangkan daripada dunia kuliah yang hanya berkutat dengan makalah dan dua jenis dosen; dosen killer dan dosen yang bikin ngantuk.
Tapi fakta di lapangan membuktikan bahwa dunia kerja ga se asik bayangan saya dulu,
DULU, selalu mondar-mandir di otak saya, “ketika saya masuk ke dunia kerja nanti, saya akan
duduk manis di meja yang dipenuhi map warna-warni yang ngantri buat saya tanda tangani, juga, perangkat koputer yang canggih, telpon yang ringing tiap menit, dan ada waku buat sesekali saya ber gaya as am as a carrier women..”
The fact? Jangan kan duduk manis, yg ada hampir setiap hari gw mondar-mandir dengan muka bringas ga beraturan ngejar data kesana kemari. Nanda tanganin map warna-warni?? Engga tuh, Who am I? Manager bukan, artis apa lagi..!! Perangkat komputer canggih??? GOSH!! boro-boro! Ada juga komputer buluk warisan (yang gw ga tau bekas siapa), yang even I need 3 minutes to open my Microsoft file! (makanya gw panggil komputer kesayangan gw (read pikaseubeuleun) ini dengan sebutan si BULUK!! cute kan? -__-'' yuh..! )
Then NOW, that’s extremely BEDA!!! cuman bisa sadar aja, siapa juga saya MARK ZUCKERBERG???? jelas bukan,, so, apa yang saya kerjakan sekarang jelas 180 derajat BEDA dengan bayangan otak saya dulu pas kuliah,
semua visualisasi yang marak dipertontonkan di semua opera sabun ternyata NIHIL di sini..
“lagian, loe kerja d mana neng???”
Suara malaikat setengan iblis di benak saya terdengar nyaring, kenapa juga harus manggil saya neng?? di kira saya anak SD yg masih berambut kuncir dua apa?? kenapa ga panggil seus, jeung, atau tante sih??
Dan dengan sangat sangat malas saya jawab
“Di willbes Global. One of Korean Garment Co., In MY Indonesia”
hening sejenak...
“hha ha ha ha ...”
Suara ketawa terbahak jelas terdengar, membahana di dinding2 neraka otak saya, suara ketawa siapa itu, jelas, saya lagi di ketawain malaikat setengan iblis di benak saya ini,
“mikir aja kali neng...” imbuhnya setelah selesai dan puas menertawakan saya
“namanya juga kerja di pabrik, masih untung kamu ga harus duduk atau berdiri terus sepanjang hari, sepanjang jam, menit detik dan sepanjang jalan kenangan..”
“hah??” spontan saya nyela.. jalan kenangan? Ngawur ni emang kadang-kadang
“iya.. maksud saya, kamu masih enak, duduk di kursi yang empuk, mau bersiri boleh, duduk apa lagi, bisa minum dengan bebas, bisa sedikit lebih di hargai sama orang yang suka pilih-pilih orang, mereka? Yang selain kamu yang kebetulan dapet jalan hidup buat kerja di bagian jahit dll jauhhhh lebih cape dari kamu”
ucapnya panjang lebar..
“jadi, apa key word nya wahai anak adam...??”
Tanya nya tiba-tiba,
hening, sedang semua narasi di otak saya sibuk menyusun barisan-barisan kalimat
“Cobalah syukuri sekecil apa pun sesuatu yang kita dapat dan jangan mengeluhkan segala hal yang belum/tidak kita dapat”
jawab saya, “Thats all anak adam... thats a key word of our happy life...”
hening...
sementara benak saya meng iyakan dan kembali membuka sisi ke pelikan hidup yang lain...
DAN, hanya di benak saya saja lah dapat ditemui dia, sia malaikat setengah iblis yang bijak...
