![]() |
Banyak bisik di tembok sebelah sana, pelan namun bersahut-sahutan tak mau berhenti, semuanya terdengar asing, membingungkan.
Bisikan pertama selalu mengajak ku terus berlari, memilah halte bis mana yang -menurutnya- cocok untuk disingahi, dimana aku bisa duduk di deretan kursi besi karatan yang berjejer lusuh di sana.
Yang kedua membisiki ku dengan ajakan untuk sekedar berhenti berlari sejenak, meluruskan otot yang mulai tegang karena usia, toh di ujung jalan sana ada tempat duduk yang terlihat sangat nyaman, kendati masih berlumur getah karna dibuat dari kayu yang terlalu muda, juga sedikit basah oleh air embun yang turun di dini hari tadi.
Menduduki kursi ini tidak seburuk pikiran ku sebelumnya, lumayan nyaman dengan sandaran yang membuat punggungku kembali dingin setelah kepanasan karna terus berlari.
Namun konsekuensinya, baju ku harus aku relakan terkena noda getah kecoklatan, sedikit mengganggu, celana kesayangan ku pun terasa sedikit lembab oleh air embun.
Mungkin sebentar lagi getahnya akan mengering dan habis, air embun nya juga lambat laun akan menjadi uap karena panas matahari yang mulai menyilaukan, pikirku.
Dan aku masih harus menunggu sampai kursi ini terlihat bersih tanpa getah dan air embun, sampai saat itu datang, semoga aku masih nyaman merebahkan pundak ku di pundak kursi ini.
oh iya, ada bisikan terakhir yang cukup bising memenuhi telingaku, bisikan ke tiga ini lirih terdengar agar ku belajar melepaskan, mungkin, melepaskan disini berarti enyah dari kursi yang aku duduki sekarang bila kelak ada seseorang yang mau duduk dan merebahkan pundaknya di sini, pada dasarnya aku tidak akan bisa berbagi tempat duduk, toh, kursi yang sekarang sedang aku duduki hanya muat untuk seorang saja.
Sekarang aku masih memejamkan mata, menikmati sejuknya embun dari kursi ini, merasakan setiap tetesnya menyentuh kulit ku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar